Rasionalitas  

Ada kesadaran yang terus bertumbuh di tahun-tahun terakhir ini bahwa rasionalisasi terletak di jantung sosiologi Weber, seperti yang dikatakan Kalberg, “Keadaan sebenarnya ialah bahwa perhatian Weber pada suatu tema yang luas dan melingkupi—rasionalisme spesifik dan khas kebudayaan barat dan asal usul dan perkembangan yang unik—terletak di pusat sosiologinya. Akan tetapi sulit untuk mendefinisikan rasionalisme yang jelas dari karya Weber.
Weber mendefinisikan rasionalitas membedakannya di antara dua tipe—rasionalitas sebagai alat-tujuan dan rasionalitas nilai, akan tetapi konsep-konsepnya mengacu pada tipe-tipe tindakan. Konsep-konsep itu adalah dasar, tetapi tidak mempunyai batas yang sama dengan pengertian Weber atas rasionalitas berskala besar. Weber tertarik bukan pada orientasi-orientasi tindakan yang terpecah-pecah, tetapi terutama pada keteraturan dan pola-pola tindakan di dalam peradaban, lembaga-lembaga, organisasi, strata. Donald Levine menyatakan bahwa Weber tertarik pada rasionalitas yang diobjektifikasi


 Tipe-tipe Rasionalitas

Tipe yang pertama ialah rasionalitas praktis, yang didefinisikan Kalberg sebagai “setiap cara hidup yang memandang dan menilai kegiatan duniawi terkait dengan kepentingan-kepentingan individual pragmatis dan egoistis belaka. Tipe rasionalitas ini muncul bersama terputusnya ikatan-ikatan magis primitif, dan ada secara lintas-peradaban dan lintas-budaya. Rasionalitas praktis membawa orang untuk tidak memercayai segenap nilai-nilai yang tidak praktis, baik rasionalitas intelektual yang religius, utopis religius maupun sekuler.
Rasionalitas Teoretis meliputi usaha kognitif menguasai realitas melalui konsep-konsep yang semakin abstrak daripada melalui tindakan, merupakan proses kognitif seperti deduksi logis, induksi, pengaitan kausalitas, dan semacamnya. Tidak seperti rasionalitas praktis, rasionalitas teoretis membawa aktor melampaui realitas-realitas sehari-hari dalam usaha untuk memahami dunia sebagai suatu kosmos yang berharga.
Rasionalitas Substantif (seperti rasionalitas praktis tetapi bukan rasionalitas teoretis) menata tindakan secara langsung ke dalam pola-pola melalui himpunan nilai-nilai, melibatkan pemilihan alat-alat menuju tujuan di dalam konteks suatu sistem nilai. Satu sistem nilai  tidak lebih rasional (secara substantif) daripada nilai lainnya. Oleh karena itu, tipe rasionalitas ini juga ada secara lintas-peradaban dan lintas-sejarah, apabila ada rumusan-rumusan nilai yang konsisten.
Rasionalitas formal, yang paling penting dari sudut pandang Kalberg yang meliputi kalkulasi alat-tujuan. Di dalam rasionalitas formal ia terjadi mengacu kepada aturan-aturan, hukum-hukum, dan peraturan-peraturan yang diterapkan secara universal. Seperti yang dikatakan Brubaker, “Umum bagi rasionalitas kapitalis industrial, hukum formalistik dan administrasi birokrasi adalah bentuknya yang diobjektivikasi, diinstitusionalisasi, supra-individual; di dalam masing-masing ruang lingkupnya, rasionalitas terwujud di dalam struktur sosial dan menghadirkan diri pada individu sebagai sesuatu yang eksternal bagi mereka.” Weber membuat hal itu dengan sangat jelas di dalam kasus spesifik rasionalisasi  birokrasi:
Rasionalisasi birokrasi pada prinsipnya, merenovasi dengan alat-alat teknis seperti yang dilakukan setiap reorganisasi ekonomi, “dari luar”  pertama-tama ia mengubah tatanan material dan sosial dan melaluinya ia mengubah manusia dengan mengubah kondisi-kondisi adaptasi dan mungkin kesempatan-kesempatan untuk adaptasi, melalui penentuan rasional atas alat-alat dan tujuan-tujuan.
Rasionalitas formal muncul hanya di Barat dengan datangnya industrialisasi. Aturan, hukum, dan peraturan yang ditetapkan secara universal yang mencirikan rasionalitas formal dua Barat ditemukan secara khusus di dalam lembaga-lembaga ekonomi, hukum dan ilmiah, dan juga dalam bentuk dominasi birokratis. Weber juga melihat banyak hal lain selain

 Tipe yang Melingkupi?

Meskipun Weber mempunyai pengertian rasionalisasi yang kompleks dan banyak segi, dia menggunakannya dengan cara yang paling kuat dan bermakna dalam penggambarannya mengenai dunia modern, khususnya di dalam ekonomi kapitalistik sebagai suatu kerangkeng besi. Struktur-struktur rasionalitas secara formal Weber melukiskan kapitalisme dan birokrasi sebagai “dua kekuatan rasionalisasi yang besar. Weber melihat kapitalisme dan birokrasi berasal dari sumber dasar yang sama.
Akan tetapi, jika kita menerima kata-kata Weber sendiri, sulit untuk menyatakan bahwa dia mempunyai teori rasionalisasi yang melingkupi. Dia menolak ide “rangkaian evolusioner umum”. Dia kritis terhadap para pemikir seperti Hegel dan Marx, yang menurutnya memberikan teori-teori teleologis umum mengenai masyarakat. Dalam bukunya Weber cenderung menjauhi studi-studi, atau proklamasi-proklamasi tentang, masyarakat secara keseluruhan. Sebagai gantinya ia cenderung fokus pada struktur-struktur dan lembaga sosial seperti birokrasi, stratifikasi, hukum, kota, agama, politik, dan ekonomi.
Proses rasionalisasi dilukiskan Weber di dalam struktur sosial atau lembaga yang satu biasanya sangat berbeda dari rasionalisasi struktur atau lembaga yang lainnya. Seperti dinyatakan Weber, proses rasionalisasi mengasumsikan “biasanya bentuk-bentuk yang bervariasi” dan “sejarah rasionalisme menunjukkan suatu perkembangan yang hampir tidak mengikuti garis sejajar di berbagai jurusan kehidupan.
Seluruh rasionalisasi ini, di pabrik seperti di tempat lain, dan khususnya di dalam mesin negara birokratis, menyerupai sentralisasi alat-alat material organisasi di tangan para tuan. Oleh karena itu, sewaktu-waktu pemuasan kebutuhan-kebutuhan politis dan ekonomi semakin dirasionalisasi, disiplin tidak terhindar mengambil alih wilayah-wilayah yang semakin besar. Fenomena universal itu semakin membatasi pentingnya karisma dan perilaku yang dibedakan secara individual.

Rasionalitas Formal dan Substantif

Menurut pandangan saya, rasionalitas formal dapat didefinisikan dari segi enam sifat dasar (Ritzer, 1983, 2008b):
1.      Struktur-struktur dan lembaga-lembaga rasional secara formal yang menekankan kalkulabilitas atau hal-hal yang dapat dihitung atau dikuantifikasi.
2.      Ada suatu fokus pada efisiensi, pada penemuan alat-alat terbaik untuk mencapai tujuan tertentu
3.      Ada perhatian besar pada pemastian prediktabilitas, atau hal-hal yang bekerja dalam ara yang sama dari waktu yang satu ke waktu yang lain atau tempat yang satu ke tempat yang lain.
4.      Suatu sistem rasional secara formal yang terus menerus mereduksi teknologi manusia dan pada akhirnya menggantikan teknologi manusia dengan teknologi non manusia.
5.      Sistem-sistem rasional secara formal berusaha mendapat kendali atas suatu susunan ketidakpastian, khususnya ketidakpastian yang dihadapkan manusia yang sedang bekerja di dalam atau dilayani oleh mereka
6.      Sistem-sistem rasional cenderung mempunyai serangkaian konsekuensi irasional untuk orang-orang yang terlibat di dalamnya dan untuk sistem-sistem itu sendiri, dan juga untuk masyarakat yang lebih besar.
Rasionalitas formal bertentangan dengan semua tipe rasionalitas yang lain, tetapi secara khusus berkonflik dengan rasionalitas substantif. Hal ditakutkan Weber ialah bahwa rasionalitas substantif menjadi urang signifikan dibandingkan tipe-tipe rasionalitas lainnya, khususnya rasionalitas formal di Barat.


Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Komentar

Posting Komentar